Di balik semarak petualangan dan kisah persahabatan dalam One Piece, terdapat realitas pahit yang sering luput dari sorotan. Dunia yang digambarkan Oda-sensei ternyata menyimpan sistem yang penuh diskriminasi dan penindasan rasial. Rasisme sistemik di dunia One Piece bukan hanya merugikan individu biasa, tapi telah menjadi luka sejarah bagi beberapa ras yang dianggap “berbeda”.
Meski kekuatan luar biasa dimiliki, sejumlah ras tetap diperlakukan tidak adil, diburu, bahkan diperbudak. Siapa saja mereka? Artikel ini akan mengungkap lima ras yang paling menderita dalam dunia One Piece, serta mengapa keberadaan mereka dianggap ancaman oleh Pemerintah Dunia.
Rasisme Sistemik dalam Dunia One Piece
Sebelum membahas satu per satu, penting untuk dipahami bahwa diskriminasi ini bukan sekadar kebencian antar individu. Penindasan terjadi secara terstruktur, dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan tertinggi seperti Tenryuubito dan Pemerintah Dunia.
Berikut ini lima ras yang menjadi simbol perlawanan, kesedihan, dan ketidakadilan di dunia One Piece:
1. Ras Buccaneer: Keturunan Dewa yang Diburu

Di urutan pertama, ras Buccaneer menempati posisi paling tragis.
- Hanya satu yang diketahui masih hidup: Bartholomew Kuma
- Begitu identitas rasnya terungkap, seluruh keluarga ditangkap
- Bahkan manusia biasa yang menikah dengan Buccaneer pun ikut dianggap “tercemar”
Perlakuan seperti ini menandakan bahwa ras Buccaneer bukan sekadar dibenci, tetapi juga ditakuti. Mereka diyakini menyimpan warisan besar yang terkait dengan sosok legendaris Nika, simbol pembebas budak dalam cerita rakyat.
Fakta mengejutkan: hanya dengan memberi informasi soal Lunarian atau Buccaneer, seseorang bisa diberi hadiah 100 juta Berry. Ini menunjukkan betapa pentingnya mereka… atau betapa takutnya Pemerintah Dunia.
2. Ras Lunarian: Sisa-Sisa Surga yang Terlupakan

Dikenal sebagai “manusia api” dari Red Line, Lunarian adalah ras yang hampir punah.
- Tubuh mereka bisa mengeluarkan api dan nyaris tak bisa dilukai
- Alber alias King dari Kaido adalah satu-satunya yang tersisa
- Seraphim yang meniru DNA mereka hanya dianggap senjata, bukan makhluk hidup
Meski kuat secara fisik, Lunarian tetap diburu dan dijadikan eksperimen, menunjukkan bahwa kekuatan tak selalu menjamin perlindungan dari ketakutan politis.
3. Fish-Man: Kekerasan karena Perbedaan Fisik

Meski kini mulai diterima secara simbolis, ras Fish-Man mengalami masa kelam yang panjang.
- Dipandang sebagai makhluk buas dan kotor
- Kerap dijadikan budak oleh manusia, terutama oleh Tenryuubito
- Dilempari batu, dipukuli, bahkan dibuang dari masyarakat
Contoh nyata datang dari Kawamatsu, yang bahkan di negeri tertutup seperti Wano, tetap dipersekusi hanya karena bentuk tubuhnya. Perbedaan fisik dijadikan alasan untuk menebar kebencian.
4. Merfolk: Keindahan yang Dijadikan Komoditas

Meski masih bagian dari masyarakat laut, Merfolk berbeda dari Fish-Man secara fisik. Mereka lebih menyerupai manusia bagian atas, dengan ekor ikan di bawah.
Namun nasib mereka tak lebih baik.
- Dijadikan simbol eksotis dan diperjualbelikan
- Shirahoshi, sang putri duyung, hampir dijadikan budak oleh Saint Charlos
- Hak mereka kerap diabaikan meski sudah diundang ke Reverie
Keindahan laut tidak selalu berarti kebebasan bagi mereka yang lahir dari dalamnya. Justru sebaliknya, kecantikan mereka menjadi alasan untuk dikurung dan diperbudak.
5. Raksasa: Dipandang sebagai Senjata, Bukan Makhluk Hidup

Di permukaan, ras Raksasa terlihat tangguh dan tak tersentuh. Tapi realitasnya?
- Mereka dianggap sebagai alat perang, bukan individu
- Raja Harald sempat diburu meski tidak bersalah
- Stansen, seorang raksasa, bahkan sempat dijual di pasar budak
Meski Elbaf dikenal sebagai bangsa kuat, bahkan yang terbesar pun bisa diperkecil martabatnya, ketika sistem sosial tidak memberi mereka ruang untuk bersuara.
Tabel Ringkasan Penindasan Antar Ras
Ras | Nasib yang Dialami | Contoh Tokoh |
---|---|---|
Buccaneer | Diburu, diperbudak, digenosida | Kuma |
Lunarian | Diuji coba, diburu karena kekuatan | King (Alber) |
Fish-Man | Dilempari, diperlakukan seperti binatang | Jinbe, Kawamatsu |
Merfolk | Diobjektifikasi, diperbudak | Shirahoshi |
Raksasa | Dijadikan alat perang, diburu | Harald, Stansen |
Kesimpulan: Dunia One Piece Tidak Sebebas yang Terlihat
Dibalik kebebasan yang sering digaungkan oleh para bajak laut, tersimpan struktur sosial yang sangat timpang. Para ras yang disebutkan tadi telah mengalami kekejaman sistemik yang tak jarang berujung pada perbudakan, penghapusan identitas, hingga pemusnahan.
Namun, benih perubahan mulai tumbuh. Tokoh-tokoh seperti Luffy, Jinbe, dan Shirahoshi mulai membuka jalan menuju dunia yang lebih setara.
Apakah perubahan itu akan berhasil?
Atau akan ada harga besar yang harus dibayar untuk kebebasan sejati?
No Comment! Be the first one.