Virtual Reality (VR) kini semakin banyak digunakan di dunia medis, tidak hanya untuk pelatihan dokter, tetapi juga sebagai alat terapi fisik dan alat bantu diagnosis. Salah satu inovasi terbarunya adalah pemanfaatan teknologi VR untuk mendeteksi dini penyakit Alzheimer melalui pengukuran kemampuan navigasi dan memori spasial pasien.
Teknologi VR untuk Deteksi Dini Alzheimer
Saat ini, diagnosis Alzheimer masih mengandalkan metode yang mahal seperti tes neurologis, pemindaian otak (MRI/CT scan), dan analisis darah. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa teknologi virtual reality dapat menjadi solusi yang lebih praktis dan non-invasif.
Menurut laporan dari Digital Trends (7 April), para peneliti melakukan studi yang meminta peserta untuk mengingat lokasi berbagai objek dalam lingkungan virtual 3D. Hasil studi menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara kemampuan memori spasial dan keberadaan protein yang terkait dengan Alzheimer, seperti plasma Aβ42/Aβ40 dan pTau217.
Perbedaan Respons antara Kelompok Usia
Dalam eksperimen tersebut, peserta diminta menavigasi koridor dengan landmark tersembunyi. Peneliti menemukan perbedaan signifikan dalam performa navigasi antara kelompok usia muda, lanjut usia, dan penderita Alzheimer. Terutama pada peserta dengan gangguan kognitif ringan (MCI), terlihat jelas kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas memori di lingkungan VR tersebut.
Harapan ke Depan: VR sebagai Alat Diagnosis Non-Invasif
Tim peneliti berharap bahwa virtual reality dapat menjadi alat skrining awal untuk Alzheimer yang lebih mudah diakses dan minim risiko. Dengan bantuan sensor yang melacak pergerakan kepala dan mata, dokter dan tenaga kesehatan dapat memantau pasien dalam jangka panjang dan memberikan intervensi restoratif lebih cepat.
Teknologi ini diharapkan mampu melengkapi metode diagnostik tradisional, sekaligus membuka peluang baru dalam pengobatan Alzheimer berbasis teknologi digital.
No Comment! Be the first one.