Tak sedikit orangtua yang merasa sudah cukup mendukung anak hanya dengan memenuhi kebutuhan fisiknya saja. Namun, di balik senyum anak yang tampak ceria, bisa saja tersembunyi kebutuhan emosional yang belum sepenuhnya dipahami atau dipenuhi.
Padahal, anak yang dibesarkan oleh orangtua yang aman secara emosional cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat, hubungan sosial yang sehat, dan ketahanan psikologis yang tinggi. Menjadi orangtua yang aman secara emosional bukan berarti sempurna, tetapi mampu menciptakan ruang aman untuk tumbuhnya emosi anak dengan sehat dan seimbang.
Berikut ini beberapa tanda penting yang dapat dikenali dari orangtua yang mampu memberikan keamanan emosional kepada anaknya.
Kenapa Keamanan Emosional dari Orangtua Itu Penting?
Anak-anak menyerap dunia melalui cara orangtuanya memperlakukan mereka. Jika emosi mereka diterima tanpa dihakimi, maka rasa aman akan terbentuk. Keamanan inilah yang menjadi pondasi bagi keberanian anak dalam mengekspresikan perasaan dan menjelajahi dunia luar.
Manfaat yang dirasakan anak:
- Lebih terbuka dalam berkomunikasi
- Percaya diri dalam mengambil keputusan
- Lebih tenang dalam menghadapi tekanan
- Cepat pulih dari kegagalan atau konflik
Keamanan emosional bukan sesuatu yang muncul begitu saja—namun bisa dibentuk melalui pola pengasuhan yang konsisten dan penuh empati.
1. Selalu Menghargai Pendapat Anak

Anak yang didengar dan dipahami akan lebih mudah mempercayai orangtuanya. Ini bukan soal setuju atau tidak, tetapi soal mengakui bahwa anak juga memiliki suara.
Tindakan nyata yang mencerminkan penghargaan:
- Tidak memotong pembicaraan anak saat ia berbicara
- Tidak meremehkan cerita atau masalah yang dianggap sepele
- Memberikan ruang agar anak bisa menyampaikan keinginan
Dengan begitu, anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan dianggap penting dalam keluarga.
2. Tidak Mengendalikan, Tapi Menuntun

Anak bukanlah objek untuk dikendalikan, melainkan individu yang sedang belajar mengenali dirinya sendiri. Orangtua yang aman secara emosional memahami bahwa kontrol berlebihan hanya akan menciptakan jarak emosional.
Perbedaan kontrol dan bimbingan:
Kontrol | Bimbingan |
---|---|
Mengatur semua pilihan anak | Memberi opsi lalu berdiskusi |
Memaksa keputusan orangtua | Mengarahkan tanpa tekanan |
Menggunakan rasa takut | Membangun lewat kepercayaan |
Anak akan lebih mudah membangun rasa tanggung jawab dan kemandirian jika dibimbing dengan penuh kasih, bukan tekanan.
3. Memberi Teladan dalam Mengelola Emosi

Daripada memberi nasihat panjang lebar, anak justru akan meniru bagaimana orangtua merespons tekanan, konflik, atau kekecewaan dalam keseharian.
Beberapa cara sederhana untuk memberi contoh:
- Menunjukkan cara menarik napas dalam-dalam saat kesal
- Menyebutkan perasaan dengan kata yang jelas: “Mama sedang kecewa, tapi Mama akan menenangkan diri dulu.”
- Tidak meledak-ledak di depan anak
Dengan melihat bagaimana emosi dikelola secara sehat, anak pun akan mempelajari strategi serupa dalam dirinya.
4. Menerima Emosi Anak Tanpa Menghakimi

Marah, sedih, kecewa—semua adalah emosi manusiawi yang sebaiknya tidak ditekan. Ketika anak merasa bahwa emosinya diterima, ia akan merasa aman untuk terbuka.
Yang bisa dilakukan:
- Tidak langsung menyuruh anak diam saat menangis
- Tidak menyalahkan anak karena merasa marah
- Menemani anak saat emosinya besar tanpa harus buru-buru “memperbaiki”
Emosi besar tidak butuh solusi instan, tapi membutuhkan penerimaan penuh kasih dari orangtua.
5. Mengajarkan Cara Memperbaiki Diri saat Salah

Daripada dihukum berlebihan, anak akan belajar lebih baik jika diberikan kesempatan untuk memahami kesalahannya dan memperbaikinya.
Proses belajar dari kesalahan yang bisa diajarkan:
- Mengakui kesalahan tanpa rasa takut
- Meminta maaf dengan tulus
- Memikirkan cara agar tidak mengulanginya lagi
Dengan pendekatan ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan punya empati tinggi terhadap orang lain.
Penutup: Mulai dari Diri Sendiri, Demi Anak yang Lebih Sehat Secara Emosional
Menjadi orangtua yang aman secara emosional bukan hal mudah, namun bisa dilatih dari hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari. Saat Mama atau Papa mulai hadir dengan penuh kesadaran, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengelola emosi dengan baik, maka anak akan merasa dicintai tanpa syarat.
“Anak yang merasa aman secara emosional, akan berani menjadi dirinya sendiri.”
Yuk, mulai ciptakan rumah yang bukan hanya nyaman secara fisik, tapi juga hangat secara emosi. Jadikan setiap interaksi sebagai ruang belajar bersama untuk menjadi keluarga yang lebih kuat dan saling mendukung.
No Comment! Be the first one.